Terus terang saya agak kesulitan menjawab persoalan yang dilontarkan pada
saya. Siang itu teman saya, perempuan-cantik, mempersoalkan tentang hormon
dan kerekatannya dengan psikologi. Dia menunjukkan kepada saya letak
kerekatan ilmu psikologi dengan (entah)
sesuatu yang berhubungan dengan hormon: daya rekatnya, variabel kerekatannya,
jenis kerekatannya, dan seberapa besar variabel kajian tentang hormon ini
memiliki kontribusi terhadap keilmuan psikologi.
Sekali lagi ini persolan ini diluar jangkauan saya. Satu sisi saya tidak
memiliki landasan keilmuan psikologi, sisi lainnya persoalan terlalu
mendadak. Nah, tapi hari ini saya ingin menulis tentang tema itu. Alih-alih
membantu teman saya tadi, tulisan ini merupakan pembelajaran bagi saya.
Tapi, tulisan ini lebih banyak melihat persoalan epistimologisnya ketimbang
melihat struktur keilmuan psikologi maupun hormon (mungkin cabang biologi
atau kedokteran).
Daya Rekat
Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama. Tak
ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.
Ilmu psikologi memetakan
faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan setiap manusia meliputi: faktor
biologis & genetika (keturunan), faktor pola asuh, faktor lingkungan, faktor
pendidikan, dan faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup
sehari-hari). Kita mencoba melihat faktor biologis dan genetika, ini terkait
dengan persoalan hormon dengan psikologi tadi.
Hormon adalah zat kimia yang
dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini
merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan
masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila
sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya
perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang
dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu
panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
Sekarang terlihat jelas polanya: hormon (bisa berupa kajian, teori, ataupun
hukum) memiliki daya rekat, terutama pada pembentukan manusia yang unik.
Daya rekatnya (hormon & psikologi) akan terlihat pada teori perkembangan
psikologi, penampakan tanda- tanda sekunder pada manusia dan lainnya dan
seterusnya. Rekat???? Iya keduanya akan memunculkan peran untuk menjelaskan
sebuah fenomena. Misal, penampakan tanda-tanda sekunder pada manusia
merupakan hasil dari produksi hormon tertentu, tapi pada saat bersamaan
banyak gejala-gejala psikologis yang tampak di sana.
Variabel Kerekatan
Kalau keduanya rekat (hormon dan psikologi), lantas variabel mana saja yang
membuat keduanya rekat. Sebelum jauh, saya mau bertanyan, apakah Anda pernah
terkena sakit sariawan? Apa yang Anda lakukan?
Mungkin kita pernah berfikir sariawan terjadi karena kuarang vitamin C.
Padahal sariawan
tidak berhubungan langsung dengan
asupan vitamin C yang kurang, tetapi dengan vitamin B12 (folat). Vitamin C
membantu proses penyembuhannya. Padahal sariawan yang selalu dikaitkan
dengan panas dalam oleh masyarakat, dapat merupakan manifestasi
bermacam-macam penyakit. Bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Paling
sering disebabkan kekurangan sayur-mayur dan buah-buahan. Luka akibat
penyikatan gigi atau makanan yang keras dan tajam pun dapat menyebabkan
sariawan.
Stres dan
hormon dapat menjadi faktor pemicu.
Tidak sedikit orang yang sariawannya kambuh hampir tiap bulan atau setiap
menjelang haid.
Baik, variabel pertama
yang kuat tampaknya pada hormon dan stres. Hormon memiliki pengaruh terhadap
stres pada manusia. Hipertiroid, alias kelebihan hormon tiroid, mungkin Anda
pernah mendengar. Gejalanya sering berkeringat, mudah marah, merasa selalu
panas, denyut jantung meningkat dan pernapasan juga meningkat per menit
merupakan contoh rekatnya variabel hormon dan stres ini.
Stres bukan hanya monopoli orang dewasa. Remaja atau anak muda pun bisa
terkena hal serupa. Sementara banyak orang yang tipenya cuek dan santai,
namun tak sedikit pula yang tipenya mudah drop jika tertimpa masalah. Ini
menjawab variabel kedua,
yaitu stres dan perkembangan hormon dalam tubuh manusia. Makanya, sering
orang bilang untuk menghilangkan stres olahlah tubuh(tubuh penuh dengan
hormon). Cara yang juga
oke adalah dengan berolahraga.
Olahraga tidak hanya baik untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran.
Aktivitas fisik membuat tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa membuat
merasa tenang dan nyaman. Selain olahraga, menghabiskan waktu dengan
teman-teman juga menyenangkan.
Nonton, jalan-jalan ke mal atau makan di restoran bersama bisa membuat lebih
santai sehingga stres terkendali.
Ah, saya sudah kehabisan nafas. Capai.
Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd