Ternyata bertemu dengan banyak orang membuat lelah. Kenapa lelah?
Bertemu banyak orang membuat energi kita terserap. Alih-alih
menyerap, malah terkuras habis. Ada tidak ya trik mengelola energi,
biar bisa banyak bertemu dengan banyak orang dengan banyak situasi.
Kalau situasi yang ditemui pas enak, energi mungkin sedikit menguap
dari tubuh. Tapi begitu bertemu dengan hari yang sarat dengan emosi,
rasanya energi tercukur habis.
Energi yang ada dalam tubuh kita jumlahnya terbatas, sementara
aktivitas kadang tidak mengenal batas. Apa lagi kalau mengikuti
mitologi Tiongkok, ying-yang, energi yang kita miliki belum tentu
positif. Padahal orang lain, seperti juga kita, selalu mengharapkan
sikap positif dari orang lain. Tak pelak ketika cadangan energi kita
menipis, titik emosi mudah sekali tersulut.
Saya sempat memperhatikan bayi, sepertinya energinya tidak mudah
terpengaruh dengan lingkungan. Energi bayi relatif bertahan lama.
Coba bayangkan, pengasuh bayi akan lebih mudah kelelahan dari pada
bayi yang diasuhnya. Bayi terus bergerak, menangis, berceloteh, dan
beeksplorasi. Bayi tumbuh berkembang dengan energi yang tumbuh
berkembang juga. Atau apa memang karena bayi belum banyak mengenal
jenis dan mengekspresikan emosi, seperti manusia dewasa?
Manusia dewasa banyak mengenal jenis dan mampu memanipulasi emosi.
Energi sangat berkaitan dengan dengan hal tersebut. Bukan tumbuh
energi pada manusia dewasa, melainkan mati. Semakin bertambah energi
semakin surut.
Saya melihat energi yang tidak mudah mudah mati, paling pasang surut,
adalah cinta.
Coba kalau semua lapisan pekerjaan, pendidikan, pengguna jalan, dan
lainnya menggunakan energi cinta, maka akan lebih baiklah dunia
Saya ingin bekerja dengan cinta!
Ditulis oleh: Teguh Triwiyanto, M.Pd(*
Mau Download Artikel ini
Klik Judulnya !